(Sepakbola) Indonesia yang benar-benar Menangis (1)

Tag

, , ,

Masih dalam euforia Juara Umum SEA Games, Timnas Sepakbola Indonesia “Garuda Muda” menghadapi team “Harimau Muda” Malaysia semalam. Jutaan pasang mata di seluruh Indonesia menyaksikan final cabang olah raga paling popular sejagad itu, berharap Garuda Muda mampu mengakhiri puasa gelar yang sudah berlangsung puluhan tahun di cabang bola sepak. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, meski jutaan pasang mata mendukung, teriakan seantero Stadion GBK menggelora mendukung Garuda Muda tapi hasil akhir tidak seperti yang diharapkan. Indonesia kalah lewat adu penalty dari Malaysia. Jutaan orang sedih dan kecewa, beberapa diantara sampai menangis tersedu. Harapan yang kandas memang sangat menyakitkan.

Saya tidak berminat mengulas jalannya pertandingan, kalaupun masih ingin mengulas reviewnya dan pesepakbolaan Indonesia. ada yang lebih berkompeten klik kesini.

Sudah jatuh masih saja tertimpa tangga, di tengah kekalahan Indonesia kabar duka berhembus pula dari Senayan, 2 Suporter meninggal dunia akibat berdesakan dan terinjak-injak. Apakah ini bukti fanatisme atau militannya supporter Indonesia??.. saya kira bukan. Ini adalah bukti carut-marutnya pengelolaan sebuah event yang berpotensi mendatangkan masa dalam jumlah besar.

Gelora Bung Karno (GBK) bukan stadion baru, stadion ini sudah berdiri begitu lama, sudah pula digunakan berkali-kali sebagai tempat timnas bertanding dalam event internasional. Hal semacam ini harusnya tidak boleh terjadi. Dengan banyak pengalaman gelaran event di stadion ini seharunya pengenalan terhadap tiap bagian stadion sudah harus di luar kepala. Bagaimana masa di mobilisasi, bagaimana nantinya arah pergerakan masa, kemungkinan-kemungkinan lainnya seharusnya juga sudah bisa diperkirakan dengan lebih cermat dan tepat.

Okay, kita harus mengakui bahwa antusiasme masa luar biasa besar dalam event Final SEA Games ini, tapi apa kemudian kita lupa bahwa antusiasme masa juga terjadi dalam event-event sejenis sebelumnya, sebut saja yang paling dekat Piala AFF dan Pra Piala Dunia. Kita sudah sering menghadapi event semacam ini tapi tetap saja masalahnya sama, tidak ada perbaikan yang signifikan.

Paling mudah kita bisa lihat soal Ticketing. Sehari sebelum Final salah satu loket di GBK dibakar Masa yang antusias. Kita seakan lupa di gelaran piala AFF antrian tiket juga terjadi dan saat itu masalahnya juga sama. Ticketing!!!. Pembagian nomor antrian untuk memecah konsentrasi masa bukan solusi yang tepat, karena supporter masih berkonsentrasi di tempat yang sama. Konyol menurut saya malah, hari ini ambil nomor antrian kemudian besok kembali ke tempat yang sama untuk menukar dengan tiket yang sebenarnya.

Takut kehabisan karena banyaknya tiket siluman yang tahu-tahu habis. Calo berkeliaran dimana-mana. Disinilah bentuk kemawasan harus diterapkan. Ada Supply ada Demand, hukum permintaan dan penawaran berlaku. Bolehlah kita berandai-andai para supporter tak lagi mau berurusan dengan calo, saya yakin kok calo-calo itu terkikis dengan sendirinya, tapi karena sebagian orang merasa lebih enak beli dari calo, ndak perlu berdesakan, hanya perlu membayar lebih tinggi. Maka jadilah calo makin menjamur.

Ticketing seharusnya bisa dilakukan dengan lebih teratur. Pilihan Online seharusnya bisa menjadi jalan yang menguntungkan. Lepas sebagian besar tiket via online, buat bukti booking yang bisa ditukar di beberapa tempat yang terpisah. Toh internet sudah bukan barang yang asing di masyarakat kita. Bagaimana pada intinya memecah konsentrasi masa agar tidak berkumpul dalam suasana penuh ketidakpastian karena anarkis pasti selalu mengancam di belakangnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.